Posted by: Sorowako Biker Club | June 27, 2008

Teguh Lanjut ke Manokwari dengan Sepeda Baru

Ditulis oleh Nirwati Mahapid dalam sorowako.net

Bagi kita yang terbiasa dengan kendaraan bermesin, mungkin tidak akan terpikirkan untuk menempuh perjalanan jauh dengan cara bersepeda. Tapi tidak halnya dengan mas Teguh. Dan untuk dua tahun terakhir ini, teman baiknya tersebut telah menemaninya berkeliling Indonesia, bahkan ke negeri tetangga. Beberapa hari yang lalu, Teguh telah sampai di kota nikel, Sorowako. Mau tahu kisahnya, mari kita simak,

Nama lengkapnya Teguh Pujo Budi Santoso. Besar dan lahir di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 43 tahun yang lalu. Tepatnya berdomisili di dusun Tegalbanteng, Kelurahan Silir, Kecamatan Wuluhan Jember.

Saat itu kami menemuinya di Sanggar Seni Measa Aroa, beristirahat sambil menikmati udara sore Sorowako. Dengan jenggot tipis, rambut gondrong sebahu terikat yang kiri-kanannya sudah nampak beberapa helai rambut putih, serta kulit kehitaman akibat sengatan matahari menampakkan bahwa Teguh memang seorang petualang alam, dimana niatnya berkeliling kota tidak terhalangi oleh usianya yang semakin menua.

Bukan hanya itu, perawakan wong Jowo juga sangat terlihat ketika kami mulai bercakap dengannya. Tak bosan ia juga melempar seyum sembari bersendau gurau dengan kami. Dengan akrab, kami memanggilnya mas Teguh.

Sebelumnya, ia telah banyak diberitakan di media surat kabar, sebagai pengelana yang berkeliling Indonesia bahkan Asia hanya dengan mengayuh sebuah sepeda.

Sepanjang perjalanannya, bendera Merah Putih yang tertancap di roda belakang sepedanya selalu setia berkibar menemani hari-harinya berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari kota-kota besar di Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, hingga sampai ke kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Kemudian ia melanjutkan ke Pulau Sulawesi dengan kota Makassar, Ibu Kota Provinsi Sulsel, sebagai kota persinggahan pertama. Menyusuri beberapa daerah selanjutnya di provinsi Sulsel, diantaranya Gowa, Bone, Pangkep, Pare-pare, Sidrap, Tana Toraja, dan Palopo.

Dalam kisahnya diceritakan bahwa perjalanannya berkeliling Asia dikarenakan penyakit stroke yang dideritanya. 5 tahun ia sulit berkomunikasi, karena ucapan yang terbata-bata sehingga menyulitkan untuk merangkaikan kata demi kata. Bahkan terkadang ia tidak ingat sama sekali orang-orang di sekitarnya, atau orang yang baru berkenalan dengan dia.

Memang tidak mudah untuk menyembuhkan diri dari penyakit stroke. Dokter yang menanganinya pun menyarankan, untuk memulihkan secara perlahan adalah dengan melakukan aktivitas olahraga.

Karena terdorong keinginan untuk sehat maka muncullah sebuah ide hebat dalam dirinya, yaitu berkeliling Asia dengan cara bersepeda. Sebuah hajat besar yang ingin diselesaikannya selama 10 tahun.

Pihak keluarga, yaitu sang istri dan kedua anaknya, Devi (14 tahun) dan Ferdiky (9 tahun) mendukung penuh niat sang pelindung keluarga. Tak terkecuali sanak keluarga lainnya, meng-amin-kan serta mendoakan semoga perjalanannya tidak mengalami hambatan dan selalu dilindungi oleh Allah SWT.

Dua tahun sudah ia melakukan perjalanan, dan 7 tahun pula ia lewati dan berusaha menyembuhkan penyakitnya. Mas Teguh sangat merasakan perubahan positif yang terjadi pada kondisinya setelah melakukan perjalanan jauh dengan bersepeda. Meskipun masih terasa sedikit kesulitan saat ia merangkai kata-kata. Terlihat saat ia berusaha menceritakan pengalamannya berada di Sorowako

Awal mula ia sampai di Sanggar Measa Aroa, bukan suatu kebetulan, tapi juga tanpa kesengajaan. Saat di tengah perjalanan menuju Sorowako, tepatnya di daerah Balambano, sepeda tuanya mengalami masalah, sehingga tak dapat dikayuh lagi. Maklum, sudah hampir 11 tahun lebih katanya. Semenjak ia masih berstatus mahasiswa Teknik Industri di Institut Teknik Malang (ITM), sepedanya tersebut sudah menjadi teman sejatinya.

Beruntung, beberapa simpatisan tergerak hatinya untuk membantu lelaki asal Jember ini. Dengan dikoordinir oleh Ibu Jois, penggiat seni di Sanggar Measa Aroa, mereka berniat menggantikan sepeda tua itu dengan sepeda yang baru dengan cara mengumpulkan dana dari berbagai pihak.

Diantaranya, dari sanggar Measa Aroa sendiri, Sorowako Painting Club (SPC) yang diketuai Didik Fortunadi, komunitas SOBEC (Sorowako Bikers Club), ORARI Sorowako, Camat Nuha, Kepala Desa Magani, dan juga tak terkecuali dana dari para officer Community Relations PT Inco. Serta beberapa pendonor lainnya yang tak ingin disebutkan namanya.

Dana yang terkumpulkan sehari sebelum keberangkatannya ke Sulawesi Tenggara akhirnya tercukupi untuk menghadiahkannya sebuah sepeda baru, seharga kurang lebih Rp. 2.350.000. Atribut-atirbut yang selalu menemani perjalanannya, seperti tas perbekalan yang tergantung di jok belakang, keranjang depan serta bendera Merah Putih yang sepanjang hari berkibar pun kemudian ia pindahkan ke sepedanya yang baru.

Nampak wajah penuh syukur serta ucapan terima kasih tak terkira dari pria yang telah menamatkan kuliah di Jurusan Teknik Industri di Institut Teknik Malang (ITM) ini. Meskipun tak dapat diucapkannya dengan kata-kata karena masih dipengaruhi oleh penyakit stroke yang dideritanya sejak 7 tahun yang lalu.

Saat berpisah di Dermaga Sorowako, pria yang pernah mendapatkan rekor MURI di Semarang tahun 2006 lalu ini tak hentinya tersenyum, saling bersalam-salaman dengan kawan-kawan di Sorowako. Bahkan ketika raft yang ditumpanginya menuju Desa Nuha perlahan melepaskan diri dari bibir pelabuhan, ia tak henti-henti melambaikan tangannya.

Lima hari keberadaannnya di kota nickel Sorowako, memberikan kesan kenyamanan dalam dirinya. Sempat ia diajak ber-tracking ria bersama SOBEC, berkeliling kota Sorowako. Ia juga mengakui keindahan serta kejernihan air Danau Matano, meski tidak mencoba merenanginya.

Dari perjalanannya mengelilingi Asia, wong Jowo yang telah mendapatkan piagam Perlintasan Khatulistiwa di tahun 2007 lalu ini banyak mendapat pengalaman berharga serta penghargaan dari beberapa institut, perusahaan maupun orang-orang berpangkat.

Beberapa yang ia temui dan kunjungi diantaranya pangkalan TNI AL Kalsel, Balai Taman Nasional Tanjung Putting, Kapolsek Makassar, PT ALSTOM, PT Jatro Oil Plantation, KNPI, Komunitas Sepeda Tua Makassar (KOSTUM), Solidaritas Sepeda Antik Makassar (SISTIM), Black Horse Scooter, Sanggar Seni Bura Mali’ Malili, SARWAS (Search & Rescue) Wasuponda, Sanggar seni Measa Aroa, dan tak terkecuali beberapa pihak yang mewakili PT Inco, Sorowako.

Keberadaannya di Sorowako telah berakhir, dan tiba saatnya ia melanjutkan petualangan serta misinya mengelilingi Asia, dengan sisa 8 tahun yang ditargetkannya.

Selamat bertualang mas Teguh
Salam hangat kawanmu ini akan selalu menyertaimu
Tetaplah Teguh dengan cita-citamu
Dan tetaplah Teguh mengayuh sepedamu..

Temoiko koa, waliku….


Leave a response

Your response:

Categories